Sabtu, 19 Januari 2013

♡Serpihan Melodi yang Tertinggal♡

Kali ini saya akan berbagi cerpen karya teman saya, Sayekti Purwaningtyas. Cewek imuet (katanya) wkwk, temen sebangku saya di SMA. Katanya juga mau di promote..
So, buat temen-temen semua yang pengen tau lebih dalam dari mbak Say (nama panggilannya) ini, bisa contact di:
Twitter: @s_Sayy
Facebook: Sayekti Purwaningtyas ( http://www.facebook.com/shin.s.young.7?fref=ts )

Langsung aja yuk... HAPPY READING^__^







Serpihan Melodi yang Tertinggal


Entah mengapa, entah sebab apa,  sepertinya udara di sekelilingku mengerti keadaaan  jiwaku saat ini.  Berhembus dengan sepoi dan formasi tertata bak penari latar tayangan perdana. Mengibaskan rambutku yang hitam pekat sepunggung yang tadinya terurai rapi, kini sedikit berantakan. Mataku terpejam   menikmati tarian angin yang berhembus dengan lihainya. Menyapu seluruh wajahku dan mulai masuk dan meresap di sela pori-pori wajahku. Butiran angin yang memberikan kesejukan, ketenangan, dan  kedamaian dalam hidup ini.
“Anginnya nikmat banget ya?” Tiba-tiba terdengar suara yang membuyarkan  kenikmatan sejenakku. Sontak kubuka kedua kelopak mataku dengan cekatan dan langsung mencari sumber suara tadi. Ternyata dia yang berbicara. Mungkin aku terlalu menghayati keadaan sekitar, makanya dia menghampiriku. Aku hanya mampu  menjawab dengan senyuman ala kadarnya.  Bisa dibilang aku sedikit gugup jika berada di dekatnya apalagi dengan keadaan hanya berdua seperti saat ini.
Dia… dia… dan dia… seseorang yang kusayangi, bahkan terlalu untuk aku cintai, tapi janggalnya  hingga kini aku tidak bisa memilikinya. Aku terbelakang untuk di sisinya. Karena sudah ada wanita dan wanita lain yang menempati posisi pertama, kedua, bahkan kesekian kalinya. Ketidakmampuanku untuk mengungkapkan perasaan ini padanya yang membuat ragaku rapuh seperti ini. Hampir 4 tahun aku mengidolakannya bahkan menyukainya sejak awal pertama Masa Orientasi Siswa(MOS) SMP hingga saat ini aku dan dia sama-sama duduk di bangku SMA dan di sekolah yang satu atap pula. Sungguh mengenaskan, batinku.
Namanya Jo Young Min, tubuhnya tinggi tegap, bodynya ideal, kulitnya putih mulus. Karena mulusnya banyak siswi yang ingin memiliki kulit seperti dia, tak terkecuali aku. Walaupun kulitku juga putih namun tak semulus dia. Aku sendiri juga heran, perawatan apa yang dipakainya. Namun yang lebih mengherankan lagi rambutnya berwarna pirang. Entah dari mana asal muasalnya. Mungkin kakekmoyang ataupun nenekmoyangnya blesteran, pikirku konyol. Rambutnya juga selalu tertata rapi style masa kini, meskipun itu selesai olahraga ataupun hingga pulang sekolah. Wajar saja jika aku terlalu fanatic dan terkesima dengannya. Oh iya, aku hampir lupa. Ada satu hal lagi yang membuatku tak henti-henti mengaguminya, yaitu matanya yang belong kecoklatan dan begitu beningya. Seakan-akan jika ia tertawa tampak seperti ingin menumpahkan air mata, selalu berkaca-kaca dan berseri.

“Kau sudah sembuh?” Tanyanya memecah  keheningan yang terjadi antara kami berdua. Aku hanya diam menerawang langit biru sore ini, mungkin ini ungkapan ketidaksanggupanku menjawab pertanyaannya. Jujur saja saat ini kondisiku belum membaik sejak pingsan di sekolah tadi. Memang akhir-akhir ini keadaanku tidak terlalu sehat dan sering pingsan,  bahkan sakit. Inilah hal yang kubenci karena pengaruh cuaca, apalagi saat pancaroba, lebih parah mungkin.
“Hei, kenapa diam? Kau tidak suka jika aku membesukmu ke sini?” Dia menyerongkan pundakku ke hadapannya sehingga duduk kami saling berhadapan. “A… a.. aku tidak, bukan itu. M… mmaksutku aku baik-baik saja. Aku justru senang kau ada di sini”. Ya Tuhan !! Tatapan itu… Kenapa aku selalu gugup jika melihat matanya? Apalagi jika saling memandang seperti ini.
Dia mulai merenggangkan genggamannya dari pundakku. “Syukurlah, aku khawatir denganmu”. Ia sandarkan punggungnya pada kursi yang kami duduki di taman rumah sakit. “Kenapa kau tiba-tiba khawatir denganku?” tanyaku penasaran. “Bukankah itu kewajiban seorang teman?” jawabnya santai. “Yaah, bisa jadi” jawabku sambil membuang muka darinya. “Kau kenapa tadi?” tanyanya aneh bak seorang detektif memburu incarannya.
 “Maksutnya?” Tanyaku sambil memalingkan muka ke arahnya. “Iyaa, tadi kau kenapa? Kenapa kamu setiap berbicara denganku selalu seperti orang gugup.  Yaah, seperti bertemu guru killer begitulah. Empat tahun kita bersama, aku sudah fasih kebiasaanmu.” Dia cengengesan. “Aah tidak juga. Hanya perasaanmu saja mungkin.”
“Ternyata benar.” Ucapannya tiba-tiba berubah serius.
“Apanya yang benar?”
“Kau menyukaiku kan? Hahaha. Sudahlah jujur saja. Tidak sedikit orang bilang begitu kok.” Tawanya meledak mencairkan keseriusan yang diciptakannya sendiri. Wajahku memerah. Betapa malunya aku, bahkan dia hanya menanggapinya dengan tawa yang bermaksud menyindir.
Aku melongos dari wajahnya dan tak membalas sedikitpun ucapannya dan beranjak kembali ke ruang di mana aku di rawat. Namun ketika aku berdiri dia justru memegang pergelangan tangan kananku. Seolah dia tak mengizinkan keputusanku untuk pergi meninggalkannya seorang diri. “Shin Sung Young… Jangan marah. Tadi aku hanya bercanda. Maaf tadi membuatmu kesal. Aku hanya ingin melihat tawamu yang menggemaskan itu, tapi ternyata justru sebaliknya.” Sial, aku kembali gugup dalam keadaan seperti ini. Aku hanya tersenyum tipis dan menepiskan tanganku agar ia lepaskan.

“kau mau kemana?”
“Aku harus kembali ke kamar dan membereskan peralatanku.” Jawabku ketus.
“Memangnya sudah boleh pulang?”
“Kenapa tidak boleh?” Mataku memelototinya. “Jo Young Min, bisa lepaskan tanganku dulu? Sakit tau.”
“Oh, maaf. Jangan galak-galak kenapa? Aku kan takut.” Dia berdiri di hadapanku. “Oh iya, sebagai ganti ucapan maafku, bagaimana kalau kau aku antar pulang?”
“Boleh juga, tapi ada syaratnya?” jari telunjukku kuarahkan tepat di depan wajahnya.
“Apa?”
Mataku memicing ke arahnya. ”kamu harus belikan aku ice cream dan membayar seluruh biaya pengobatanku di rumah sakit tadi.”
Young Min mendesah. “ Astaga… sebanyak itukah?”
“Jika tidak mau juga tidak masalah. Toh nanti kamu sendiri yang menanggung dosa dariku. Karena kamu tidak aku maafkan.” Ledekku sambil meninggalkan dia mematung sendirian.
“Sung Young tunggu. Baiklah jika itu maumu. Lagi pula sudah lama aku tidak baik hati denganmu, hahaha” Dia tertawa kecil dan mulai berjalan sejajar denganku. “Tumben seorang Jo Young Min bisa baik”. Ujarku membalas ledekannya.
Kami berjalan menuju kamar inapku dan menuju loket pembayaran. Dilanjutkan membeli ice cream yang dijanjikannya kemudian mengantarku pulang.
                
                        ♡♡♡

        “Ya sudah, sampai depan rumahmu saja ya”. Ujarnya tersenyum padaku.
        “Kau tidak masuk dulu ke rumah? Setidaknya menemui orang tuaku dulu sebagai tanda terima kasihku.”
        “Tidak usah, nanti merepotkan keluargamu.”
        “Ayolah, masuk dulu. Katanya berbakti kepada orangtua.” Rengekku.
 
      “Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama ya.” Ucapnya pasrah ketika lengannya kutarik masuk ke dalam rumah. Aku mengangguk dengan senyuman kemenangan yang tersungging di kedua sudut bibirku.
        “Aku pulaang !!” Teriakku di teras rumah. “Iya, tunggu sebentar.” Ucap seseorang di dalam rumah.
        “Kamu sudah boleh pulang?” Ujar bunda kepadaku. “Eh, ada Young Min. Ayo istirahat dulu di dalam!”
        Aku mencium tangan bunda. “Iya, seperti biasanya kata dokter aku sakit gara-gara perubahan cuaca akhir-akhir ini.”
        “Iya, tante, terimakasih. Tadi dokter juga bilang Sung Young harus banyak istirahat agar cepat sembuh dan tidak kambuh lagi.” Sahutnya sesopan mungkin.
        “Begitu ya? Terima kasih banyak ya. Beruntung Sung Young punya teman sebaik kamu. Tadi tante masih ada rapat dengan manager tante, jadi belum sempat menjenguknya.”
        Aku menggerutu tak jelas. “Pantesan…”
        “Tenang, tan. Tidak apa-apa kok. Itu sudah kewajiban saya sebagai teman.” Ucapnya sok jadi pahlawan. Ini nih yang aku tidak suka darinya. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga ucapannya. “Oh iya, saya pulang dulu, tan. Sudah petang, sebentar lagi gelap.”
“Loh, kok buru-buru? Ya sudah hati-hati ya? Saat ini jalanan ramai.”
        “Baik tante” Young Min mencium tangan bunda. “Aku pulang dulu, Sung Young. Jaga kesehatanmu!”
        Kami mengantarnya dari keluar rumah sampai ia menyalakan motor ninja  kesayangannya dan pergi semakin menjauh hingga punggungnya mulai tak tampak  membaur dengan suasana gemerlap jalanan.
        Bunda merangkul pundakku. “bunda sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, ayam rica-rica di meja makan. Ayah sudah menunggu di sana”
        Aku melepaskan tangan bunda. “Aku tidak lapar, lebih baik aku istirahat agar besok kondisiku lebih baik. Bunda sama ayah makan dulu saja” Aku menolak dan menuju ruang keluarga untuk menonton televisi sebentar.
        “Yaah, terserah kamu saja. Yang penting jaga kesehatanmu!”
        Aku hormat pada bunda. “Siap, Nyonya Kim Yong Neul.”
        Aku duduk terlentang serileks mungkin di depan televisi dengan kedua kaki lurus dan aku ganjal punggungku dengan bantal.
        Ada apa ini? Tiba-tiba saja seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Suasanapun berubah menjadi sunyi mencekam. Aku masih dalam posisi yang sama dan masih kebingungan memandang keadaan sekitar. Mulai meraba-raba di sekelilingku, mungkin saja ada benda yang bermanfaat seperti halnya cahaya walaupun sekecil apapun itu yang penting dapat membantuku menghentikan permainan ini. Aku begitu membenci gelap. Naas, aku tak kunjung mendapatkannya.
        Aku beranikan diri beranjak dari tempat yang kubenci ini. Rasa takut, marah, kesal, lelah bercampur menjadi satu. Entah bagaimana bentuk dan wujudnya. Yang jelas inilah ungkapan perasaanku saat ini. Aku berjalan begitu pelannya bak kucing kelaparan dan terus meraba benda sekitarku. Mau bagaimana lagi? Inilah kemampuanku satu-satunya yang dapat menyelamatkan aku. Ah, sial. Lagi-lagi aku tidak mengerti tempat ini. Aku sangat mengenali setiap ruangan di rumah. Namun ini bukan rumahku, tidak ada benda satupun di sini, tempat ini kosong. Jangan-jangan aku berada di tanah lapang luas yang kosong? Atau mungkin berada di dunia luar entah itu sawah, hutan belantara, rawa, ataupun  lainnya yang tidak terjamah oleh manusia?
        Ya Tuhan !! Tolong hamba-Mu yang kesusahan ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku di mana? Kenapa aku harus berada di tempat yang begitu aneh ini?
        Aku terdiam. Tiba-tiba melintas di benakku. Young Min pernah mengatakan jika ingin mencarinya di saat-saat tertentu atapun pada waktu yang tidak tepat, carilah suatu titik. Dimana titik itu terdapat suatu cahaya. Yaa, itu cahaya kehidupan, cahaya dari ketulusan hati Young Min. Aku selalu mengingat ucapan itu dan mempercayainya walaupun secara logika itu aneh, khayal, dan mustahil. Namun aku yakin, jika aku mempecayainya, itu pasti ada dan bisa saja terjadi.
        Saat ini, itulah yang harus aku lakukan. Ya, aku harus mencari sumber dimana terdapat cahaya. Aku terus melangkah. Entah kemana arahnya, aku hanya menuruti kata hati dan mengikuti kemana kaki ini melangkah. Terus dan terus melangkah. Aku mulai merasakan lelah, mungkin aku berjalan terlalu jauh. Aku duduk sebentar dengan kedua kaki lurus ke depan dan kedua tanganku aku jadikan penyangga tubuh dan mulai bangkit meneruskan langkahku.
        Di sana… Di titik itu… Di titik itu ada seberkas cahaya. Aku coba memastikan apakah itu benar atau hanya khayalanku. Aku kucek-kucek kedua mataku untuk memperjelasnya. Ternyata benar, itu adalah cahaya. Kupercepat langkahku dan sesekali lari-lari kecil. Semakin dekat dengan asalnya, titik itu semakin besar dan semakin besar. Aku sudah sampai, kurasa. Ternyata satu titik itu adalah sebuah 

lorong seperti dalam gua namun bersinar entah dari mana asalnya. Aku menebak-nebak dalam hati, apakah ini hati Young Min? Konyol sekali, memangnya ini di negeri dongeng?
        Pertanyaan-pertanyaan terus melintas di benakku. Terserahlah, aku menghiraukannya. Aku memberanikan diri mulai melangkah dan memasuki lorong itu. Untuk kesekian kalinya lorong ini cukup jauh dan menyita energiku yang tinggal setetes lagi.
        Apa itu? Sepanjang perjalanan tadi aku dihadapkan kesunyian yang senyap. Namun baru di tempat ini aku mendengar suara yang melintas. Memang suaranya terdengar samar, namun ini sangat menyita perhatianku. Dugaanku benar, seperti hal-hal sebelumnya suara itu terdengar semakin jelas. Bisa dibilang seperti suara anak-anak kecil. Apalagi ini? Bisa-bisa aku pingsan di tempat ini juga. Aku takut, bulu kuduku tiba-tiba dingin dan merinding. Aku coba beranikan diri untuk berteriak “Hai, siapa itu? Ada orang di sana? Helo?” kalimat itu terus aku katakan untuk meredakan ketakutanku sepanjang perjalanan.
        Sampai akhirnya aku berhenti pada lorong yang bercabang. Aku bingung harus kemana. Seketika itu juga ada gadis kecil sekitar 8 tahunan dengan pakaian aneh seperti peri kecil dalam negeri dongeng ataupun dalam tokoh kartun luar negeri princess, berambut pirang sepinggang, berhias mahkota di kepalanya, dan alas kaki seperti dalam negeri dongeng atau princess pula. Kulitnya putih, wajahnya cantik dan polos dengan warna kemerahan merona di kedua pipinya.
        Sontak aku mengeluarkan keringat dingin dan sedikit menghindar. Walaupun aku jauh lebih besar darinya, namun dengan dandanan dan kostumnya seperti itu, membuatku takut dengan sendirinya. “Siapa kamu? Apa maumu? Dan kenapa kamu ada di sini?” Tanyaku sedikit berteriak. Namun dia hanya diam dan justru tersenyum kepadaku dan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Tanpa berpikir panjang aku hanya menurutinya dan tak memikirkan apa yang terjadi nanti jika ia menipuku. Aku mencoba bertanya “Kau mau membawaku kemana?” Dia hanya menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku merasa canggung, tidak mengerti apa maksutnya, namun tetap mengikutinya. Karena merasa begitu hening, aku memberanikan diri untuk bertanya lagi “Oh iya, namamu siapa? Apa kau mengenalku?” Namun apa yang kudapat, dia hanya menoleh namun tidak dengan senyum, melainkan dengan wajah datar. Mungkin dia kesal, karena sedari tadi aku terus mengoceh dan mengintrogasinya.
        Akhirnya aku putuskan untuk diam saja dan mengikuti kemana ia melangkah, daripada membuat gadis kecil itu bermuka datar untuk kedua kalinya.  Suara itu terdengar lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Sebenarnya aku ingin bertanya lagi apakah itu teman-temannya, namun aku urungkan niatku itu. Ternyata ada 

lorong yang bercabang lagi. Yang satu ke arah kanan sedangkan yang satunya lagi ke arah kiri. Namun gadis kecil itu memilih lorong ke kanan dan aku tinggal mengikutinya saja. Astaga, tidak dapat dipercaya. Ternyata banyak anak kecil yang seumur dengan gadis kecil tadi. Mereka bermain bersama, canda, tawa, seakan tak ada beban dalam hidupnya. Wajah-wajah lucu, cantik, begitu polosnya menandakan suci dari dosa, setidaknya menurutku.
        Gadis kecil itu menoleh ke arahku dan menunjuk suatu tempat di sana. Tempat berakhirnya lorong itu. “Apa yang harus aku lakukan dan tempat apa lagi di sana?” Tanyaku spontan. Dia hanya tersenyum dan membaur dengan teman seusianya. Aku bingung, percuma aku tanya lagi, pasti dia tidak menjawab. Mungkin dia bisu atau mungkin sengaja membisu? Entahlah.
Menuruti isyarat gadis itu mungkin hal terbaik. Aku berjalan menuju berakhirnya lorong itu dan… ini sebuah taman? Ya, ini memang taman. Aneh sekali, tadi ruang gelap gulita, kemudian lorong gua penuh kerlap kerlip cahaya, dan sekarang justru taman penuh bunga yang bermekaran. Aku berjalan membiarkan jemariku dengan lancangnya meraba bunga-bunga itu. Sesekali menciumnya, sungguh harum sekali. Tuhan !! apakah ini yang namanya surga? Namun jika benar ini surga, berarti aku sudah tiada? Tidak !!! Aku belum siab untuk itu. Masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku tidak mungkin meninggalkan kedua orangtuaku dan juga Young Min dalam keadaan sedih dan terpuruk. Aku teringat semua hal yang pernah kulalui bersama orangtuaku dan juga Young Min. Semua terlihat jelas. Berputar-putar di otakku. “Ttiiddaakk !!!” Teriakku sekencang-kencangnya mengumpat kedua telingaku dengan duduk lutut tertekuk tak berdaya.
Tiba-tiba ada seseorang memanggilku.  “Shin Sung Young… jangan sedih! Aku selalu di sampingmu, di sini. Ya di sini, kemarilah!” Aku mengenali suara itu. Bukan lagi mengenali, namun sangat mengenalnya. Itu suara Young Min. Aku mencoba mencari sumber suara itu, terus mencari. Jika Young Min ada di sini apakah dia juga telah tiada. Ini tidak mungkin. “Young Min, kau di mana? Young Miin, aku menyayangimu. Kau di mana?” Aku terus berteriak. Tak terasa butiran mutiara-mutiara kecil telah membanjiri pipiku.
Di sana? Apakah itu dia? Aku mencoba mendekat. Di sana ada lelaki yang duduk di kursi bangku taman tepat membelakangiku. Dari belakang aku sangat mengenalinya. Aku yakin itu Young Min. Aku memberanikan diri untuk   memanggilnya lirih “Jo young Min… apakah itu kau?” Lelaki itu menoleh. Ternyata benar, itu Young Min. Dia tampan sekali saat itu, begitu tampan. Rambutnya tertata jauh lebih rapi dan style lebih bergaya dari biasanya, memakai jas putih mewah, terdapat bunga mawar merah pada saku jas kirinya, parfumnya begitu harum. Seakan-akan aku terbawa dalam kelembutan tubuhnya. 
Dia menghampiriku dan mengusap air mataku. “kau kenapa menangis?”
“Aku takut kehilanganmu.”
“Itu mustahil. Kau tetap di sini, di hatiku.” Dia menunjuk dada kirinya dengan jari telunjuknya. “Dan aku selalu di sini, di hatimu. Jadi, tidak mungkin aku bisa pergi ataupun menghilang.”
“Benarkah? Berjanjilah kepadaku, dirimu sendiri, dan juga Tuhan!”
“Itu benar. Pasti aku berjanji dan menepatinya. Peganglah ucapanku ini. Sudah jangan menangis lagi. Aku sudah di sini kan?” Dia memelukku dengan erat. Aku mencium ketulusan cinta darinya yang begitu hangat. Tubuhnyapun begitu hangat, menandakan dia orang yang terbuka. Aroma tubuhnya begitu harum dan menenangkan pikiranku. Aku begitu nyaman di sisinya apalagi jika dia memelukku dengan butiran-butiran kasih sayang yang tak mungkin terpisah.
Pelukannya sedikit longgar dan semakin memudar dan lepas. Dia memegang kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya. Dia tersenyum kepadaku. Senyum yang begitu tulus. Kemudian dia mengecup keningku. Melepas telapak tangannya dari pipiku dan tersenyum. Dia memalingkan tubuhnya dan berjalan menjauhiku. “Kau mau kemana?” teriakku dengan mata berkaca-kaca. “Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi” Dia hanya menoleh dengan senyuman terindahnya dan kembali berjalan. Aku mengejarnya namun semua sia-sia dia telah lenyap dalam gelap. Hilang dalam waktu. Bayangannya telah sirna oleh kegulitaan dan pergi entah kemana…
              ♡♡♡

        “Shin Sung Young… hei aku di sini.”
        “Kenapa kau pergi? Kembalilah! Jangan tinggalkan aku sendiri!” Ujarku setengah sadar.
        “Hah? Apa maksutmu? Ayo cepat bangun! Ini sudah siang, ayo berangkat!” Young Min menggoyang-goyangkan lenganku.
        Aku langsung terperanjat dari tidurku. “Apa? Ini jam berapa? Lalu kenapa kau di sini? Dan kenapa aku bisa tidur di sini?”
        Young Min berkacak pinggang seperti guru killer menghukum tawanannya. “Sudahlah, jangan banyak tanya. Bundamu sendiri yang menyuruhku membangunkanmu. Cepat mandi sana! Nanti kujelaskan.”
 
        “Siap, Tuan Jo Young Min.” Aku langsung lari menuju kamar mandi.
        Setelah semua selesai dan beres-beres aku berangkat sekolah. “Bund, aku berangkat bersama Young Min.” Teriakku dari depan rumah pada bunda di belakang sana. “Iya, hati-hati ya! Salam buat Young Min” balas bunda genit.
        Aku mendesis. “Dasar ibu-ibu genit.”
“Anak bandel. Kenapa kau tidak mencium tangan bundamu dulu?”
        “Ah sudahlah, ini sudah siang. Jadi berangkat atau tidak?” sungutku.
        Kami berangkat mengendarai motornya dan melesat ke jalan raya yang belum terlalu penuh polusi dengan lalu lalang segala aktivitas yang melintas.
        “Oh iya, kau mau cerita apa?”
        Young Min terdiam sejenak. “Umm tadi malam aku memimpikanmu. Mimpinya aneh sekali.”
        “Apa? Memangnya bagaimana mimpimu?”
        “Entahlah, yang jelas aku diberi amanah untuk menjagamu dan tidak akan meninggalkanmu.” Dia menoleh ke arahku.
        Aku terdiam. Ya Tuhan !! Apakah ini jawaban dari sekian lama penantianku? Apakah iya?
        Dia menoleh lagi. “Kenapa diam saja? Makanya aku menjemputmu tadi. Mimpi tadi malam tidak seperti biasanya. Menurutku bukan mimpi, tapi amanah seseorang yang harus aku kerjakan.”
        “Oh, tidak apa-apa. Begitukah? Masalahnya aku juga bermimpi tentangmu.”
        “Wow, benarkah? Mungkin kita jodoh, hahaha.” Tawanya meledak menambah rasa gugupku. “Pegangan yang erat, biar nyaman.”
        Wajahku memerah. Tak mampu mengungkapkan sepatah katapun. Hanya senyum yang tersungging dari bibirku dan tanganku berpegangan melingkar pada perut sixpacknya.
        Serpihan Melodi yang Tertinggal? Mungkin kata-kata itu yang pantas untukku selama ini yang menantikan keajaiban dan kehadirannya. Serpihan melodi itu akan dia ambil dan dipersatukan dengan melodi yang lainnya. Dipersatukan menjadi melodi yang utuh, seperti hatiku dengan hatinya… 
                   

Sekian dulu cerpen hari ini, jika menyukai atau ingin berkomentar silahkan tinggalkan coment-nya ^.^
yang mau share dan berbagi sertakan link dan sumbernya ya? *) hargai penulis
THANK :* ..



1 komentar:

Unknown mengatakan...

apiik, coyy. haha. ane sukka (y). kapan" ane buat lgi. skalian diposin lagi

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates