Kali ini saya akan berbagi cerpen karya teman saya, Sayekti Purwaningtyas. Cewek imuet (katanya) wkwk, temen sebangku saya di SMA. Katanya juga mau di promote..
So, buat temen-temen semua yang pengen tau lebih dalam dari mbak Say (nama panggilannya) ini, bisa contact di:
Twitter: @s_Sayy
Facebook: Sayekti Purwaningtyas ( http://www.facebook.com/shin.s.young.7?fref=ts )
Langsung aja yuk... HAPPY READING^__^
Sekian dulu cerpen hari ini, jika menyukai atau ingin berkomentar silahkan tinggalkan coment-nya ^.^
yang mau share dan berbagi sertakan link dan sumbernya ya? *) hargai penulis
THANK :* ..
So, buat temen-temen semua yang pengen tau lebih dalam dari mbak Say (nama panggilannya) ini, bisa contact di:
Twitter: @s_Sayy
Facebook: Sayekti Purwaningtyas ( http://www.facebook.com/shin.s.young.7?fref=ts )
Langsung aja yuk... HAPPY READING^__^
Serpihan
Melodi yang Tertinggal
Entah mengapa, entah sebab apa, sepertinya udara di sekelilingku mengerti
keadaaan jiwaku saat ini. Berhembus dengan sepoi dan formasi tertata
bak penari latar tayangan perdana. Mengibaskan rambutku yang hitam pekat
sepunggung yang tadinya terurai rapi, kini sedikit berantakan. Mataku
terpejam menikmati tarian angin yang berhembus dengan
lihainya. Menyapu seluruh wajahku dan mulai masuk dan meresap di sela pori-pori
wajahku. Butiran angin yang memberikan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian dalam hidup ini.
“Anginnya nikmat banget ya?” Tiba-tiba
terdengar suara yang membuyarkan
kenikmatan sejenakku. Sontak kubuka kedua kelopak mataku dengan cekatan
dan langsung mencari sumber suara tadi. Ternyata dia yang berbicara. Mungkin
aku terlalu menghayati keadaan sekitar, makanya dia menghampiriku. Aku hanya
mampu menjawab dengan senyuman ala
kadarnya. Bisa dibilang aku sedikit
gugup jika berada di dekatnya apalagi dengan keadaan hanya berdua seperti saat
ini.
Dia… dia… dan dia… seseorang yang kusayangi,
bahkan terlalu untuk aku cintai, tapi janggalnya hingga kini aku tidak bisa memilikinya. Aku
terbelakang untuk di sisinya. Karena sudah ada wanita dan wanita lain yang
menempati posisi pertama, kedua, bahkan kesekian kalinya. Ketidakmampuanku
untuk mengungkapkan perasaan ini padanya yang membuat ragaku rapuh seperti ini.
Hampir 4 tahun aku mengidolakannya bahkan menyukainya sejak awal pertama Masa
Orientasi Siswa(MOS) SMP hingga saat ini aku dan dia sama-sama duduk di bangku
SMA dan di sekolah yang satu atap pula. Sungguh mengenaskan, batinku.
Namanya Jo Young Min, tubuhnya tinggi tegap,
bodynya ideal, kulitnya putih mulus. Karena mulusnya banyak siswi yang ingin
memiliki kulit seperti dia, tak terkecuali aku. Walaupun kulitku juga putih
namun tak semulus dia. Aku sendiri juga heran, perawatan apa yang dipakainya.
Namun yang lebih mengherankan lagi rambutnya berwarna pirang. Entah dari mana
asal muasalnya. Mungkin kakekmoyang ataupun nenekmoyangnya blesteran, pikirku
konyol. Rambutnya juga selalu tertata rapi style masa kini, meskipun itu
selesai olahraga ataupun hingga pulang sekolah. Wajar saja jika aku terlalu fanatic
dan terkesima dengannya. Oh iya, aku hampir lupa. Ada satu hal lagi yang
membuatku tak henti-henti mengaguminya, yaitu matanya yang belong kecoklatan
dan begitu beningya. Seakan-akan jika ia tertawa tampak seperti ingin
menumpahkan air mata, selalu berkaca-kaca dan berseri.
“Kau sudah sembuh?” Tanyanya memecah keheningan yang terjadi antara kami berdua.
Aku hanya diam menerawang langit biru sore ini, mungkin ini ungkapan ketidaksanggupanku
menjawab pertanyaannya. Jujur saja saat ini kondisiku belum membaik sejak
pingsan di sekolah tadi. Memang akhir-akhir ini keadaanku tidak terlalu sehat
dan sering pingsan, bahkan sakit. Inilah
hal yang kubenci karena pengaruh cuaca, apalagi saat pancaroba, lebih parah
mungkin.
“Hei, kenapa diam? Kau tidak suka jika aku membesukmu
ke sini?” Dia menyerongkan pundakku ke hadapannya sehingga duduk kami saling
berhadapan. “A… a.. aku tidak, bukan itu. M… mmaksutku aku baik-baik saja. Aku
justru senang kau ada di sini”. Ya Tuhan !! Tatapan itu… Kenapa aku selalu gugup
jika melihat matanya? Apalagi jika saling memandang seperti ini.
Dia mulai merenggangkan genggamannya dari
pundakku. “Syukurlah, aku khawatir denganmu”. Ia sandarkan punggungnya pada
kursi yang kami duduki di taman rumah sakit. “Kenapa kau tiba-tiba khawatir
denganku?” tanyaku penasaran. “Bukankah itu kewajiban seorang teman?” jawabnya
santai. “Yaah, bisa jadi” jawabku sambil membuang muka darinya. “Kau kenapa
tadi?” tanyanya aneh bak seorang detektif memburu incarannya.
“Maksutnya?”
Tanyaku sambil memalingkan muka ke arahnya. “Iyaa, tadi kau kenapa? Kenapa kamu
setiap berbicara denganku selalu seperti orang gugup. Yaah, seperti bertemu guru killer begitulah.
Empat tahun kita bersama, aku sudah fasih kebiasaanmu.” Dia cengengesan. “Aah
tidak juga. Hanya perasaanmu saja mungkin.”
“Ternyata benar.” Ucapannya tiba-tiba berubah
serius.
“Apanya yang benar?”
“Kau menyukaiku kan? Hahaha. Sudahlah jujur
saja. Tidak sedikit orang bilang begitu kok.” Tawanya meledak mencairkan
keseriusan yang diciptakannya sendiri. Wajahku memerah. Betapa malunya aku,
bahkan dia hanya menanggapinya dengan tawa yang bermaksud menyindir.
Aku melongos dari wajahnya dan tak membalas
sedikitpun ucapannya dan beranjak kembali ke ruang di mana aku di rawat. Namun
ketika aku berdiri dia justru memegang pergelangan tangan kananku. Seolah dia
tak mengizinkan keputusanku untuk pergi meninggalkannya seorang diri. “Shin
Sung Young… Jangan marah. Tadi aku hanya bercanda. Maaf tadi membuatmu kesal. Aku
hanya ingin melihat tawamu yang menggemaskan itu, tapi ternyata justru
sebaliknya.” Sial, aku kembali gugup dalam keadaan seperti ini. Aku hanya
tersenyum tipis dan menepiskan tanganku agar ia lepaskan.
“kau mau kemana?”
“Aku harus kembali ke kamar dan membereskan
peralatanku.” Jawabku ketus.
“Memangnya sudah boleh pulang?”
“Kenapa tidak boleh?” Mataku memelototinya.
“Jo Young Min, bisa lepaskan tanganku dulu? Sakit tau.”
“Oh, maaf. Jangan galak-galak kenapa? Aku kan
takut.” Dia berdiri di hadapanku. “Oh iya, sebagai ganti ucapan maafku,
bagaimana kalau kau aku antar pulang?”
“Boleh juga, tapi ada syaratnya?” jari
telunjukku kuarahkan tepat di depan wajahnya.
“Apa?”
Mataku memicing ke arahnya. ”kamu harus
belikan aku ice cream dan membayar seluruh biaya pengobatanku di rumah sakit
tadi.”
Young Min mendesah. “ Astaga… sebanyak
itukah?”
“Jika tidak mau juga tidak masalah. Toh nanti
kamu sendiri yang menanggung dosa dariku. Karena kamu tidak aku maafkan.”
Ledekku sambil meninggalkan dia mematung sendirian.
“Sung Young tunggu. Baiklah jika itu maumu.
Lagi pula sudah lama aku tidak baik hati denganmu, hahaha” Dia tertawa kecil
dan mulai berjalan sejajar denganku. “Tumben seorang Jo Young Min bisa baik”.
Ujarku membalas ledekannya.
Kami berjalan menuju kamar inapku dan menuju
loket pembayaran. Dilanjutkan membeli ice cream yang dijanjikannya kemudian
mengantarku pulang.
♡♡♡
“Ya sudah, sampai depan rumahmu saja
ya”. Ujarnya tersenyum padaku.
“Kau tidak masuk dulu ke rumah?
Setidaknya menemui orang tuaku dulu sebagai tanda terima kasihku.”
“Tidak usah, nanti merepotkan keluargamu.”
“Ayolah, masuk dulu. Katanya berbakti
kepada orangtua.” Rengekku.
“Baiklah
kalau begitu. Tapi jangan lama-lama ya.” Ucapnya pasrah ketika lengannya
kutarik masuk ke dalam rumah. Aku mengangguk dengan senyuman kemenangan yang
tersungging di kedua sudut bibirku.
“Aku pulaang !!” Teriakku di teras rumah.
“Iya, tunggu sebentar.” Ucap seseorang di dalam rumah.
“Kamu sudah boleh pulang?” Ujar bunda
kepadaku. “Eh, ada Young Min. Ayo istirahat dulu di dalam!”
Aku mencium tangan bunda. “Iya, seperti
biasanya kata dokter aku sakit gara-gara perubahan cuaca akhir-akhir ini.”
“Iya, tante, terimakasih. Tadi dokter
juga bilang Sung Young harus banyak istirahat agar cepat sembuh dan tidak
kambuh lagi.” Sahutnya sesopan mungkin.
“Begitu ya? Terima kasih banyak ya.
Beruntung Sung Young punya teman sebaik kamu. Tadi tante masih ada rapat dengan
manager tante, jadi belum sempat menjenguknya.”
Aku menggerutu tak jelas. “Pantesan…”
“Tenang, tan. Tidak apa-apa kok. Itu
sudah kewajiban saya sebagai teman.” Ucapnya sok jadi pahlawan. Ini nih yang
aku tidak suka darinya. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga ucapannya. “Oh iya,
saya pulang dulu, tan. Sudah petang, sebentar lagi gelap.”
“Loh, kok buru-buru? Ya sudah hati-hati ya?
Saat ini jalanan ramai.”
“Baik tante” Young Min mencium tangan
bunda. “Aku pulang dulu, Sung Young. Jaga kesehatanmu!”
Kami mengantarnya dari keluar rumah
sampai ia menyalakan motor ninja
kesayangannya dan pergi semakin menjauh hingga punggungnya mulai tak
tampak membaur dengan suasana gemerlap
jalanan.
Bunda merangkul pundakku. “bunda sudah
menyiapkan makanan kesukaanmu, ayam rica-rica di meja makan. Ayah sudah
menunggu di sana”
Aku melepaskan tangan bunda. “Aku tidak
lapar, lebih baik aku istirahat agar besok kondisiku lebih baik. Bunda sama
ayah makan dulu saja” Aku menolak dan menuju ruang keluarga untuk menonton
televisi sebentar.
“Yaah, terserah kamu saja. Yang penting
jaga kesehatanmu!”
Aku hormat pada bunda. “Siap, Nyonya Kim
Yong Neul.”
Aku duduk terlentang serileks mungkin di
depan televisi dengan kedua kaki lurus dan aku ganjal punggungku dengan bantal.
Ada apa ini? Tiba-tiba saja seluruh
ruangan menjadi gelap gulita. Suasanapun berubah menjadi sunyi mencekam. Aku masih
dalam posisi yang sama dan masih kebingungan memandang keadaan sekitar. Mulai
meraba-raba di sekelilingku, mungkin saja ada benda yang bermanfaat seperti
halnya cahaya walaupun sekecil apapun itu yang penting dapat membantuku
menghentikan permainan ini. Aku begitu membenci gelap. Naas, aku tak kunjung
mendapatkannya.
Aku beranikan diri beranjak dari tempat
yang kubenci ini. Rasa takut, marah, kesal, lelah bercampur menjadi satu. Entah
bagaimana bentuk dan wujudnya. Yang jelas inilah ungkapan perasaanku saat ini.
Aku berjalan begitu pelannya bak kucing kelaparan dan terus meraba benda
sekitarku. Mau bagaimana lagi? Inilah kemampuanku satu-satunya yang dapat
menyelamatkan aku. Ah, sial. Lagi-lagi aku tidak mengerti tempat ini. Aku
sangat mengenali setiap ruangan di rumah. Namun ini bukan rumahku, tidak ada
benda satupun di sini, tempat ini kosong. Jangan-jangan aku berada di tanah
lapang luas yang kosong? Atau mungkin berada di dunia luar entah itu sawah,
hutan belantara, rawa, ataupun lainnya
yang tidak terjamah oleh manusia?
Ya Tuhan !! Tolong hamba-Mu yang
kesusahan ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku di mana? Kenapa aku harus berada
di tempat yang begitu aneh ini?
Aku terdiam. Tiba-tiba melintas di
benakku. Young Min pernah mengatakan jika ingin mencarinya di saat-saat
tertentu atapun pada waktu yang tidak tepat, carilah suatu titik. Dimana titik
itu terdapat suatu cahaya. Yaa, itu cahaya kehidupan, cahaya dari ketulusan
hati Young Min. Aku selalu mengingat ucapan itu dan mempercayainya walaupun secara
logika itu aneh, khayal, dan mustahil. Namun aku yakin, jika aku mempecayainya,
itu pasti ada dan bisa saja terjadi.
Saat ini, itulah yang harus aku lakukan.
Ya, aku harus mencari sumber dimana terdapat cahaya. Aku terus melangkah. Entah
kemana arahnya, aku hanya menuruti kata hati dan mengikuti kemana kaki ini
melangkah. Terus dan terus melangkah. Aku mulai merasakan lelah, mungkin aku
berjalan terlalu jauh. Aku duduk sebentar dengan kedua kaki lurus ke depan dan
kedua tanganku aku jadikan penyangga tubuh dan mulai bangkit meneruskan
langkahku.
Di
sana… Di titik itu… Di titik itu ada seberkas cahaya. Aku coba memastikan
apakah itu benar atau hanya khayalanku. Aku kucek-kucek kedua mataku untuk
memperjelasnya. Ternyata benar, itu adalah cahaya. Kupercepat langkahku dan
sesekali lari-lari kecil. Semakin dekat dengan asalnya, titik itu semakin besar
dan semakin besar. Aku sudah sampai, kurasa. Ternyata satu titik itu adalah
sebuah
lorong
seperti dalam gua namun bersinar entah dari mana asalnya. Aku menebak-nebak
dalam hati, apakah ini hati Young Min? Konyol sekali, memangnya ini di negeri
dongeng?
Pertanyaan-pertanyaan
terus melintas di benakku. Terserahlah, aku menghiraukannya. Aku memberanikan
diri mulai melangkah dan memasuki lorong itu. Untuk kesekian kalinya lorong ini
cukup jauh dan menyita energiku yang tinggal setetes lagi.
Apa itu? Sepanjang perjalanan tadi aku
dihadapkan kesunyian yang senyap. Namun baru di tempat ini aku mendengar suara
yang melintas. Memang suaranya terdengar samar, namun ini sangat menyita
perhatianku. Dugaanku benar, seperti hal-hal sebelumnya suara itu terdengar
semakin jelas. Bisa dibilang seperti suara anak-anak kecil. Apalagi ini?
Bisa-bisa aku pingsan di tempat ini juga. Aku takut, bulu kuduku tiba-tiba
dingin dan merinding. Aku coba beranikan diri untuk berteriak “Hai, siapa itu?
Ada orang di sana? Helo?” kalimat itu terus aku katakan untuk meredakan
ketakutanku sepanjang perjalanan.
Sampai akhirnya aku berhenti pada lorong
yang bercabang. Aku bingung harus kemana. Seketika itu juga ada gadis kecil
sekitar 8 tahunan dengan pakaian aneh seperti peri kecil dalam negeri dongeng
ataupun dalam tokoh kartun luar negeri princess, berambut pirang sepinggang,
berhias mahkota di kepalanya, dan alas kaki seperti dalam negeri dongeng atau
princess pula. Kulitnya putih, wajahnya cantik dan polos dengan warna kemerahan
merona di kedua pipinya.
Sontak aku mengeluarkan keringat dingin
dan sedikit menghindar. Walaupun aku jauh lebih besar darinya, namun dengan
dandanan dan kostumnya seperti itu, membuatku takut dengan sendirinya. “Siapa
kamu? Apa maumu? Dan kenapa kamu ada di sini?” Tanyaku sedikit berteriak. Namun
dia hanya diam dan justru tersenyum kepadaku dan memberi isyarat agar aku
mengikutinya. Tanpa berpikir panjang aku hanya menurutinya dan tak memikirkan
apa yang terjadi nanti jika ia menipuku. Aku mencoba bertanya “Kau mau
membawaku kemana?” Dia hanya menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku merasa
canggung, tidak mengerti apa maksutnya, namun tetap mengikutinya. Karena merasa
begitu hening, aku memberanikan diri untuk bertanya lagi “Oh iya, namamu siapa?
Apa kau mengenalku?” Namun apa yang kudapat, dia hanya menoleh namun tidak
dengan senyum, melainkan dengan wajah datar. Mungkin dia kesal, karena sedari
tadi aku terus mengoceh dan mengintrogasinya.
Akhirnya
aku putuskan untuk diam saja dan mengikuti kemana ia melangkah, daripada
membuat gadis kecil itu bermuka datar untuk kedua kalinya. Suara itu terdengar lagi, bahkan lebih keras
dari sebelumnya. Sebenarnya aku ingin bertanya lagi apakah itu teman-temannya,
namun aku urungkan niatku itu. Ternyata ada
lorong
yang bercabang lagi. Yang satu ke arah kanan sedangkan yang satunya lagi ke
arah kiri. Namun gadis kecil itu memilih lorong ke kanan dan aku tinggal
mengikutinya saja. Astaga, tidak dapat dipercaya. Ternyata banyak anak kecil
yang seumur dengan gadis kecil tadi. Mereka bermain bersama, canda, tawa,
seakan tak ada beban dalam hidupnya. Wajah-wajah lucu, cantik, begitu polosnya
menandakan suci dari dosa, setidaknya menurutku.
Gadis
kecil itu menoleh ke arahku dan menunjuk suatu tempat di sana. Tempat
berakhirnya lorong itu. “Apa yang harus aku lakukan dan tempat apa lagi di
sana?” Tanyaku spontan. Dia hanya tersenyum dan membaur dengan teman seusianya.
Aku bingung, percuma aku tanya lagi, pasti dia tidak menjawab. Mungkin dia bisu
atau mungkin sengaja membisu? Entahlah.
Menuruti isyarat gadis itu mungkin hal
terbaik. Aku berjalan menuju berakhirnya lorong itu dan… ini sebuah taman? Ya,
ini memang taman. Aneh sekali, tadi ruang gelap gulita, kemudian lorong gua penuh
kerlap kerlip cahaya, dan sekarang justru taman penuh bunga yang bermekaran.
Aku berjalan membiarkan jemariku dengan lancangnya meraba bunga-bunga itu.
Sesekali menciumnya, sungguh harum sekali. Tuhan !! apakah ini yang namanya
surga? Namun jika benar ini surga, berarti aku sudah tiada? Tidak !!! Aku belum
siab untuk itu. Masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku tidak mungkin
meninggalkan kedua orangtuaku dan juga Young Min dalam keadaan sedih dan terpuruk.
Aku teringat semua hal yang pernah kulalui bersama orangtuaku dan juga Young
Min. Semua terlihat jelas. Berputar-putar di otakku. “Ttiiddaakk !!!” Teriakku
sekencang-kencangnya mengumpat kedua telingaku dengan duduk lutut tertekuk tak
berdaya.
Tiba-tiba ada seseorang memanggilku. “Shin Sung Young… jangan sedih! Aku selalu di
sampingmu, di sini. Ya di sini, kemarilah!” Aku mengenali suara itu. Bukan lagi
mengenali, namun sangat mengenalnya. Itu suara Young Min. Aku mencoba mencari
sumber suara itu, terus mencari. Jika Young Min ada di sini apakah dia juga
telah tiada. Ini tidak mungkin. “Young Min, kau di mana? Young Miin, aku
menyayangimu. Kau di mana?” Aku terus berteriak. Tak terasa butiran
mutiara-mutiara kecil telah membanjiri pipiku.
Di
sana? Apakah itu dia? Aku mencoba mendekat. Di sana ada lelaki yang duduk di
kursi bangku taman tepat membelakangiku. Dari belakang aku sangat mengenalinya.
Aku yakin itu Young Min. Aku memberanikan diri untuk memanggilnya lirih “Jo young Min… apakah itu
kau?” Lelaki itu menoleh. Ternyata benar, itu Young Min. Dia tampan sekali saat
itu, begitu tampan. Rambutnya tertata jauh lebih rapi dan style lebih bergaya
dari biasanya, memakai jas putih mewah, terdapat bunga mawar merah pada saku
jas kirinya, parfumnya begitu harum. Seakan-akan aku terbawa dalam kelembutan
tubuhnya.
Dia menghampiriku dan mengusap air mataku.
“kau kenapa menangis?”
“Aku takut kehilanganmu.”
“Itu mustahil. Kau tetap di sini, di hatiku.”
Dia menunjuk dada kirinya dengan jari telunjuknya. “Dan aku selalu di sini, di
hatimu. Jadi, tidak mungkin aku bisa pergi ataupun menghilang.”
“Benarkah? Berjanjilah kepadaku, dirimu
sendiri, dan juga Tuhan!”
“Itu benar. Pasti aku berjanji dan
menepatinya. Peganglah ucapanku ini. Sudah jangan menangis lagi. Aku sudah di
sini kan?” Dia memelukku dengan erat. Aku mencium ketulusan cinta darinya yang
begitu hangat. Tubuhnyapun begitu hangat, menandakan dia orang yang terbuka.
Aroma tubuhnya begitu harum dan menenangkan pikiranku. Aku begitu nyaman di
sisinya apalagi jika dia memelukku dengan butiran-butiran kasih sayang yang tak
mungkin terpisah.
Pelukannya sedikit longgar dan semakin
memudar dan lepas. Dia memegang kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya.
Dia tersenyum kepadaku. Senyum yang begitu tulus. Kemudian dia mengecup
keningku. Melepas telapak tangannya dari pipiku dan tersenyum. Dia memalingkan
tubuhnya dan berjalan menjauhiku. “Kau mau kemana?” teriakku dengan mata
berkaca-kaca. “Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi” Dia hanya
menoleh dengan senyuman terindahnya dan kembali berjalan. Aku mengejarnya namun
semua sia-sia dia telah lenyap dalam gelap. Hilang dalam waktu. Bayangannya
telah sirna oleh kegulitaan dan pergi entah kemana…
♡♡♡
“Shin Sung Young… hei aku di sini.”
“Kenapa kau pergi? Kembalilah! Jangan
tinggalkan aku sendiri!” Ujarku setengah sadar.
“Hah? Apa maksutmu? Ayo cepat bangun!
Ini sudah siang, ayo berangkat!” Young Min menggoyang-goyangkan lenganku.
Aku langsung terperanjat dari tidurku.
“Apa? Ini jam berapa? Lalu kenapa kau di sini? Dan kenapa aku bisa tidur di
sini?”
Young Min berkacak pinggang seperti guru
killer menghukum tawanannya. “Sudahlah, jangan banyak tanya. Bundamu sendiri
yang menyuruhku membangunkanmu. Cepat mandi sana! Nanti kujelaskan.”
“Siap, Tuan Jo Young Min.” Aku langsung
lari menuju kamar mandi.
Setelah semua selesai dan beres-beres
aku berangkat sekolah. “Bund, aku berangkat bersama Young Min.” Teriakku dari
depan rumah pada bunda di belakang sana. “Iya, hati-hati ya! Salam buat Young
Min” balas bunda genit.
Aku mendesis. “Dasar ibu-ibu genit.”
“Anak bandel. Kenapa kau tidak mencium tangan
bundamu dulu?”
“Ah sudahlah, ini sudah siang. Jadi
berangkat atau tidak?” sungutku.
Kami berangkat mengendarai motornya dan
melesat ke jalan raya yang belum terlalu penuh polusi dengan lalu lalang segala
aktivitas yang melintas.
“Oh iya, kau mau cerita apa?”
Young Min terdiam sejenak. “Umm tadi
malam aku memimpikanmu. Mimpinya aneh sekali.”
“Apa? Memangnya bagaimana mimpimu?”
“Entahlah, yang jelas aku diberi amanah
untuk menjagamu dan tidak akan meninggalkanmu.” Dia menoleh ke arahku.
Aku terdiam. Ya Tuhan !! Apakah ini
jawaban dari sekian lama penantianku? Apakah iya?
Dia menoleh lagi. “Kenapa diam saja?
Makanya aku menjemputmu tadi. Mimpi tadi malam tidak seperti biasanya.
Menurutku bukan mimpi, tapi amanah seseorang yang harus aku kerjakan.”
“Oh, tidak apa-apa. Begitukah?
Masalahnya aku juga bermimpi tentangmu.”
“Wow, benarkah? Mungkin kita jodoh,
hahaha.” Tawanya meledak menambah rasa gugupku. “Pegangan yang erat, biar
nyaman.”
Wajahku memerah. Tak mampu mengungkapkan
sepatah katapun. Hanya senyum yang tersungging dari bibirku dan tanganku
berpegangan melingkar pada perut sixpacknya.
Serpihan
Melodi yang Tertinggal? Mungkin kata-kata itu yang pantas untukku
selama ini yang menantikan keajaiban dan kehadirannya. Serpihan melodi itu akan
dia ambil dan dipersatukan dengan melodi yang lainnya. Dipersatukan menjadi
melodi yang utuh, seperti hatiku dengan hatinya…
Sekian dulu cerpen hari ini, jika menyukai atau ingin berkomentar silahkan tinggalkan coment-nya ^.^
yang mau share dan berbagi sertakan link dan sumbernya ya? *) hargai penulis
THANK :* ..

1 komentar:
apiik, coyy. haha. ane sukka (y). kapan" ane buat lgi. skalian diposin lagi
Posting Komentar