Ini adalah kisah cinta antara kakek Arun dan nenek Gemma. Mendengar kisah cinta mereka, aku menyadari bahwa ternyata cinta sejati itu memang ada.
++++++++++++
Nenekku populer sebagai gadis yang tercantik di
kotanya saat itu. Banyak pemuda yang menaruh
hati pada nenek dan bersedia memberikan cintanya.
Mulai dari yang tampan hingga yang kaya berusaha
menarik perhatian nenek, tetapi nenek tak pernah
tertarik pada semua pemuda itu.
Hingga suatu saat kakek bertemu nenek di sebuah
pesta. Kakekku adalah pemuda yang biasa-biasa
saja. Tidak tampan, dan tidak kaya.
Hari itu ia mengumpulkan semua keberanian dirinya untuk menyapa nenek. Mengajaknya sekedar menikmati
secangkir kopi di sebuah coffee shop di ujung kota.
Entah mengapa nenek mengiyakan ajakannya.
Mungkin karna Berharap segera keluar dari hiruk pikuk pesta.
Di sana mereka duduk berhadapan, dengan wajah
cemas kakek berharap bisa berbincang banyak
dengan nenek yang saat itu cuek dan tak terlihat
tertarik sama sekali. Kata nenek sih, ia menerima
ajakan kakek karena telah merasa bosan dengan
pesta tersebut. Nenek menggunakan alasan kakek agar ia bisa pergi dan segera pulang.
Di tengah perbincangan yang membisu, kakek memanggil
pelayan coffee shop tersebut. "Pak, bolehkah aku
meminta sedikit garam untuk dimasukkan pada kopi
ini?" Semua orang yang ada di sekitar kakek dan
nenek keheranan.
Untuk apa garam dimasukkan ke dalam secangkir kopi? Hal tersebut berhasil menarik perhatian nenek.
"Untuk apa kau menaruh garam di dalam kopimu?"
tanya nenek.
"Oh... ini hanya sebuah kebiasaan lama ayahku.
Dulu aku tinggal di sebuah desa dekat pesisir pantai.
Di sana kami biasa menambah garam pada kopi agar tetap ingat pada laut, tempat tinggal kami. Dan, hari ini aku rindu kampung halamanku. Aku juga rindu
pada orang tuaku yang sudah meninggal. Agar aku tak lupa akan mereka, aku terbiasa menaruh garam
di dalam kopiku," tutur kakek.
Nenekpun merasa tersentuh. Tak pernah ditemui pemuda semanis kakek.
Sejak saat itu, mereka selalu
pergi berkencan dan bercerita panjang lebar.
Merekapun akhirnya menikah. Hidup bahagia,
hingga punya banyak anak dan cucu.
Suatu kali, di ulang tahun pernikahan ke-50, kakek
akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Di sebuah kotak berisi perhiasan kado ulang tahun
pernikahan, ditinggalkannya secarik surat untuk
nenek.
Karena mata nenek sudah kurang awas
untuk membaca, maka ia memintaku untuk membacanya. Kira-kira beginilah isi surat itu...
Gemma yang terkasih,
Aku meminta maaf akan sebuah kesalahan
yang sangat besar, yang pernah kulakukan
sepanjang hidupku. Aku menyimpan sebuah
kebohongan besar selama ini. Ingatkah saat
aku mengajakmu ke coffee shop hari itu? Saat
itu aku sangat gugup sekali. Saking gugupnya aku ingin meminta tambahan gula untuk
kopiku. Namun, entah kenapa yang terucap
adalah aku meminta garam.
Aku tak ingin terlihat konyol di depanmu. Dan
akhirnya aku mengarang cerita itu. Aku tak
tahu lagi harus bagaimana. Kau terlihat begitu
cantik dan sempurna, hingga aku tak ingin
melepaskanmu.
Tetapi, percayalah sayang... bahwa sepanjang
hidupku aku sangat mencintaimu. Aku tak
ingin kehilangan diriku. Sehingga sekalipun
setiap pagi kau buatkan kopi asin itu, semua
selalu terasa manis karenamu.
Jujur saja, kau mungkin tak akan suka rasanya, karena sebenarnya rasanya sungguh tidak enak.
Gemma, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku
sangat mencintaimu.
***
Air mata nenekpun turun membasahi pipinya. Ia
sadar betapa besarnya cinta kakek padanya. Sejak
saat itupun ia selalu menambahkan garam di dalam
kopinya. Setiap kali ada orang yang bertanya
bagaimanakah rasa kopi bila ditambah garam, ia
akan menjawabnya "rasanya manis sekali :)"

0 komentar:
Posting Komentar